Yogyakarta – Resah melihat kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang terus meningkat, akhirnya dilakukanlah penelitian pengendalian DBD oleh Eliminate Dengue Project-Yogya (EDP-Yogya) di wilayah Sleman dan Bantul. Sleman dan Bantul adalah daerah padat penduduk yang dipilih karena merupakan daerah endemis demam berdarah.

EDP-Yogya merupakan program penelitian bersama antara Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) dengan Yayasan Tahija. Metode penelitian EDP-Yogya adalah menggunakan bakteri alami bernama Wolbachia yang terbukti mampu menekan perkembangan virus demam berdarah dengue di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti.

Selasa (26/4) Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) berkesempatan untuk meninjau keberhasilan penelitian yang dilakukan EDP-Yogya ini. Menristekdikti didampingi oleh Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti, Rektorat UGM, Pemerintah Kabupaten Sleman, dan Pemerintah Daerah Yogyakarta mengunjungi fasilitas penelitian yang berlokasi di lingkungan UGM.

“Kecepatan inovasi sangatlah penting, karena itu saya meminta peneliti untuk tidak cepat berpuas hati. Semoga teknologi ini dapat dikembangkan terus-menerus. Kami akan segera komunikasikan dengan Kementerian Kesehatan supaya dapat segera memanfaatkan teknologi ini dengan lebih massive,” ujar Menteri Nasir sembari menyaksikan proses perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia di dalam Insektarium dan pemberian makan nyamuk oleh pendonor manusia (blood feeder).

Teknologi nyamuk ber-Wolbachia
ini telah direkomendasikan pula oleh The World Health Organization (WHO). Maret 2016, WHO mengeluarkan pernyataan bahwa Wolbachia merupakan teknologi baru yang menjanjikan untuk menekan replikasi virus dengue, chikungunya, dan zika dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti.

“Semua ini bisa terwujud berkat kesadaran peneliti bahwa penelitian tidak hanya untuk kepuasan atau kepentingan diri sendiri (read: peneliti), namun jg untuk kepentingan bangsa,” ujar Rektor UGM Dwikorita.

“Apresiasi harus diberikan kepada penelitian EDP-Yogya, semoga penelitian ini dapat menjadi pionir untuk terus mengembangkan inovasi-inovasi pengendalian demam berdarah dengue yang aman, ramah lingkungan, dan berkelanjutan”, tutur Nasir. (flh/bkkp)

Galeri