UNAIR NEWS — Ruang Kahuripan terasa hangat Senin pagi (27/11). Puluhan mahasiswa asing dari berbagai negara tampak bercengkrama akrab dan saling mengenalkan diri. Mereka merupakan mahasiswa internasional dari beberapa universitas di Jawa Timur yang mengikuti program INDIAIR (Indonesian Diversity at Airlangga) di Ruang Sidang Pleno, Kantor Manajemen Universitas Airlangga.
INDIAIR merupakan kegiatan yang kali pertama digelar di UNAIR berupa short course yang berlangsung selama dua minggu. Dalam program itu, peserta akan dikenalkan dengan multikulturalisme dan keberagaman budaya di Indonesia. Beberapa course yang ditawarkan seperti Saman Class, Gamelan Class, Diskusi budaya, dan Lecture Field Trip.
Irfan Wahyudi S.Sos., M.Comms. selaku Head of International Program Division, Airlangga Global Engagement menyatakan bahwa dalam program tersebut, mahasiwa bakal dikenalkan dengan budaya atau iklim pengajaran di Universitas Airlangga.
”Lebih jauhnya program ini untuk menambah angka mobility mahasiswa asing di Universitas Airlangga. Kita perlu melakukan serangkaian inovasi. Ini salah satu caranya,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, juga hadir Wakil Rektor I, Prof. Djoko Santoso , dr., Sp.PD-KGH., Ph.D., FINASIM; Diah Ariani Arimbi, S.S, M.A, Ph.D; dan keynote speaker Stanley Harsha, mantan diplomat Amerika Serikat yang bertugas di Indonesia.
Stanley memberikan gambaran singkat mengenai keberagaman di Indonesia dari sisi orang asing. Itu diharapkan bisa menambah wawasan bagi peserta INDIAIR 2017 kali ini.
Rajesh Dass, salah seorang peserta asal Nepal, menyatakan bahwa dirinya sangat senang untuk mengikuti program tersebut untuk mengetahui lebih dalam tentang kota yang ditinggalinya sekarang, yaitu Surabaya.
”Saya sangat tertarik dan antusias. Melaui program ini, akan lebih banyak tahu mengenai Indonesia, Surabaya, khususnya Universitas Airlangga,” ucapnya. (PIH UNAIR)