Seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, beberapa tahun terakhir Smart City semakin kencang dibicarakan dan diyakini akan menjadi salah satu solusi dari berbagai masalah yang timbul dari kemajuan dan dinamika kota yang semakin maju dan modern.

Kenapa Smart City?

Smart City diharapkan mampu menjawab minimal 3 (tiga) hal penting dari sebuah kota, yaitu : (a) mengetahui (sensing) keadaan kota, (b) memahami (understanding) keadaan kota lebih jauh, dan (c) dapat melakukan aksi (acting) terhadap permasalahan timbul.

Membuat kota menjadi Smart City bertujuan untuk meningkatkan rasa aman dan nyaman bagi warganya, membuat kota semakin efektif dan efisien serta meningkatkan daya saing dan pertumbuhan ekonomi serta pemerataan penghasilan. Beberapa dimensi yang harus dipenuhi dalam sebuah Smart City adalah (a) Dimensi Sosial, (b) Dimensi Ekonomi, (c) Dimensi Kemananan dan (d) Dimensi Lingkungan. Hampir semua sektor strategis  seperti energi, industri, lingkungan hidup, pariwisata, kepemerintahan, pendidikan serta perdagangan menjadi variable utama dalam membangun Smart City. Sedangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berperan dalam Smart City adalah teknologi informasi dan komunikasi, transportasi, teknologi proses dan manufaktur, control system dan sebagainya.

Produk teknologi yang dapat mendorong terwujudnya Smart City diantaranya adalah : bahan bakar hemat anergi dan rendah polusi seperti solarcell,  e-gov, e-banking, easyPay, e-procurement, Internet, remote sensing, Near Field Communication (NFC) termasuk peralatan transportasi berbasis listrik.

Lantas pertanyaan berikutnya : kapan  Smart City perlu hadir di sebuah kota?

Melihat infrastruktur yang dimiliki, beberapa kota besar di Indonesia yang diprediksi dalam waktu dekat menerapkan konsep “Smart City” adalah Bandung, Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Semarang serta kota-kota lain yang telah memiliki infrastruktur ICT sebagai unggulan daerah. Konsep Smart City ini merupakan suatu cara penggunaan teknologi “infus” ketika suatu kawasan atau daerah  membutuhkan sebuah informasi yang sangat cepat, murah dan efisien. Penggunaan Smart City atau kota pintar ini disesuaikan dengan kebutuhan, misalnya di kota industri Smart City seperti apa yang dibangun jika basis di kota industri, berbeda dengan Smart City yang basis kotanya pertanian atau pelajar. Jadi, Smart City harusnya dibangun secara spesifik, karena dengan  teknologi informasi terpilih, maka setiap warga kota bisa melakukan apa saja sesuai kebutuhan.

Manfaat Smart City?

Dalam Smart City, teknologi informasi secara komprehensif  bisa diintegrasikan dan dikemas secara menyatu dan holistik. Masyarakat bisa mengakses sebuah informasi dimana, kemana dan  saja yang mereka perlukan. Manfaat dari teknologi informasi Smart City ini bisa didisain sendiri oleh pakar ICT di kota itu, sehingga dapat mengurangi penggunaan teknologi dari luar negeri. Sehingga produk-produk dan informasi dari luar negeri bisa dipilah dan dipilih serta diakses oleh manajemen Smart City secara mandiri, bahkan masyarakat tidak lagi menjadi penonton tetapi sebagai pelaku dan pengelola perkembangan teknologi yang semakin cepat ini. Bahkan, system dapat dibangun dengan menu tertentu oleh peneliti dalam negeri, sehingga jaminan akan keamanan informasi dapat diandalkan.

Benar yang dikatakan Emha Ainun Najib (Budayawan) “Seperti kita punya rumah, kemudian ada tamu datang, tamu yang datang itu lebih pintar dari kita, lebih ramah, lebih hebat dari kita, sehingga dia ngajarin kita untuk bersih-bersih rumah sehingga rapi,  ngajarin kita berbenah diri sehingga rumah kita menjadi nyaman, akhirnya kita terkesima oleh cara kerjanya, kita hanya menjadi penonton di rumah kita sendiri. Kita terkesima karena rumah kita menjadi rapi dan sangat menarik dan nyaman. Singkat cerita, tidak terasa, kita terpinggirkan kita hanya tinggal dipojokan rumah kita, dan dia menjadi kepala rumah tangga di rumah kita”. Akankah cerita itu terjadi di negara kita tercinta? Semua tergantung warga bangsa, generasi pejuang, generasi penerus cita-cita luhur Indonesia.

Seberapa jauh masyarakat dapat menikmati kecanggihan Smart City di Indonesia?? Jawabnya adalah sejauh mana kita bisa sinergi dan kolaborasi dalam sebuah konsorsium ICT yang kuat, sebagai penggerak mewujudkan Smart City di Indonesia.

Apa yang seharusnya dilakukan oleh  lembaga litbang dan perguruan tinggi?

Universitas, dan lembaga litbang, industri dan pemerintah berperan penting dalam mengembangkan teknologi informasi untuk membuat suatu perangkat  aplikasi yang diimplementasikan di Smart City.

Smart City menjadi data dan informasi yang dimiliki oleh masyarakat, data yang dimiliki harus dijamin aman. Data-data strategis harus dapat terlindungi, tapi data yang perlu diinformasikan kepada public harus dapat diinformasikan secara terang benderang. Maka penelitian dan pengembangan teknologi dibidang Smart City ini harus dilakukan secara bersama-sama. Harus ada kemandirian keberpihakan pemerintah bahwa Smart City ini menjadi alat sehingga masyarakat menjadi pelaku pembangunan, jangan sampai kita menjadi penonton dari teknologi yang datang dari luar. Jika demikan, maka terdapat peluang yang besar untuk kemajuan dan daya saing bangsa melalui pembangunan  Smart City. Strategi yang dibuat adalah membuat roadmap Smart City secara berkelanjutan.

Kemampuan membangun Smart City tergantung dari Sumber daya manusia, sehingga perlu ditingkatkan, kemudian system dan manajemen inovasi juga perlu ditingkatkan, sehingga Smart City menggunakan system yang efektif dan efisien, Inovasi Iptek kedepan selalu menciptakan sebuah aplikasi baru sesuai perkembangan zaman,  dimana masyarakat bisa menggunakannya dengan mudah dan sederhana.

Beranikah kita membangun Smart City? Jawabnya adalah siapa takut dan kenapa tidak berani?

Karena Smart City merupakan peluang, tetapi tantangan juga harus siap diantisipasi oleh masyarakat terutama membanjirnya teknologi komunikasi dan informasi dari luar yang begitu pesat. Dengan itu kita harus tingkatkan sumber daya manusianya, kelembagaan dan jejaring, sehingga Perkembangan ekonomi di Indonesia diprediksi mampu  menjadi penggerak ekonomi Asean. Maka kesempatan Indonesia seharusnya mampu menjadi pelaku pembangunan bukan objek pembangunan dari negara lain di era globalisasi ini.

Tidak menutup kemungkinan pemerintah daerah akan bekerja sama dengan Universitas dan Lembaga litbang untuk menfaatkan teknologi informasi untuk membangun Smart City di kota dan daerahnya masing-masing.

DR. Ir.Agus Puji Prasetyono, M.Eng
Staf Ahli Menteri Bidang Relevansi Dan Produktivitas, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.