Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, melalui
Direktorat Litbang, melaksanakan kegiatan Sosialisasi dan focus Group Discussion (FGD) terkait Penguatan Kelembagaan Pusat Unggulan Inovasi Daerah dibidang Garam, dengan bekerjasama dengan Pusat Unggulan Inovasi Garam Universitas Trunojoyo Madura.

Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Santika Surabaya, 01 November 2017. FGD ini dihadiri kurang lebih 60 (Enam Puluh) peserta, yang terdiri dari Rektorium UTM, para Dekan dan Kaprodi dilingkungan UTM, beberapa Unitbterkait dilingkungan UTM, Rektor PT di Madura, Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur, Dinas Perikanan dan Kelautan di wilayah Madura, serta para peneliti yang ada dilingkungan UTM. Rangkaian kegiatan ini diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan ketua panitia. Dr. Mahfud Effendi dalam sambutannya menyampaikan, bahwa kegiatan Sosialisasi dan FGD Penguatan Kelembagaan Pusat Unggulan Inovasi Daerah terlaksana atas kerjasama Direktorat Jenderal Kelembagaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dengan PUI Garam UTM. Kegiatan
ini dimaksudkan sebagai salah satu media untuk menyamakan persepsi dan pemahaman seluruh stakholder terkait kehadiran dan pengembangan PUI Garam yang ada di UTM. Usulan dan ide atau gagasan dari para peserta FGD benar-benar kami tunggu sebagai bahan dan refernsi terhadap penguatan baik secara kelembagaan maupun kapasitas para peneliti yang memiliki konsen terhadap garam, tutur Mahfud menutup sambutannya.

Adapun sambutan selanjutnya disampaikan oleh Rektor UTM Dr. Ec. H. Muh. Syarif, M.Si., Dalam sambutannya, Rektor UTM menyatakan bahwa kegiatan Sosialisasi dan FGD ini dilaksanakan sebagai salah satu bentuk komitmen dan tanggungjawab pemerintah melalui Kemeristekdikti dengan menggandeng PUI UTM. Kegiatan ini dilaksanakan untuk memberikan dukungan kepada PUI Garam UTM untuk dapat memmberikan kontribusi nyata kepada masyarakat yang selanjutnya diharapkan dapat menjadi STP Garam. PUI Garam ini diharapkan kedepan dapat kami wujudkan dalam menciptakan pendirian Program Studi baru yaitu Prodi Garam. Melalui pengembangan klaster PUI Garam UTM ini dapat berjalan dengan baik apabilaada kerjasama Penthahelix yang dapat
menghasilkan dan mengangkat kesejahteraan masyarakat khususnya dalam menyikapi kelangkaan garam yang akhir-akhir ini melanda Indonesia.
Lebih lanjut Rektor, menyampaikan harapannya kepada Direktur Litbang dan Inovasi Kemenristekdikti, agar PUI Garam UTM ini benar-benar didukung oleh Kementerian sehingga inovasi garam yang UTM lakukan dapat memberika kontribusi nyata kepada pemerintah dan masyarakat. PUI Garam UTM ini merupakan bagian dari pengembangan klaster dengan mengangkat potensi lokal Madura yang dapat dijadikan sebagai pengembangan kompetensi dari para peneliti dilingkungan UTM. Harapannya kedepan, pengembangan klaster melalui PUI Garam UTM ini dapat menjadi bagian struktur kurikulum dilingkungan UTM. Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur, dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa “penetapan PUI Garam UTM merupakan suatu hal sangat istimewa disaat kita mengalami permasalahan nasional dibidang
garam”. PUI Garam UTM ini merupakan suatu langkah cerdas dalam memberikan solusiyang membumi dan praktis dalam menyelesaikan kelangkaan garam yang sedang dialami. PUI Garam ini diharapkan dapat memberikan solusi swasembada garam, walaupun saat ini masih banyak pihak yang menganggap bahwa persoalan garam merupakan persolan sederhana, padahal sesungguhnya persoalan garam ini merupakan suatu hal esensial dalam mendukung keberlangsungan industri. Kelangkaan garam yang dialami oleh masyarakat akan berakibat kepada industri manufactur dan industri terkaitlainnya, sehingga kehadiran PUI Garam UTM diharapkan dapat menjadi solusi cerdas mengatasi kelangkaan garam yang sedang kita alami saat ini. “Kami berkeyakinan, bahwa esensi dari garam ini apabila dilaksanakan secara serius dan berkesinambungan pada akhirnya akan dapat meniciptakan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat”. Oleh karena itu, kehadiran PUI Garam yang digagas oleh UTM ini menjadi salah satu solusi yang membumi dan tentu Pemerintah Provinsi akan dengan senang hati berkolaborasi dan bekerjasama dengan UTM dalam melakukan percepatan dan pengembangan inovasi dibidang garam. Solusi cerdas ini tidak hanya menyangkut kearifan lokal dari masyarakat Madura, tetapi secara faktual garam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Madura dan Indonesia.

Sedangkan, Direktur Litbang Kemeristekdikti, Ir. Kemal Prihatman, M.Eng.,
menyampaikan dalam sambutannya bahwa kegiatan FGD ini dilaksanakan untuk
mensupport terhadap penelitian dan inovasi garam yang digagas oleh UTM. Saat ini kita memiliki sekitar 1000 lembaga litbang di lingkungan Perguruan Tinggi. Kedepan mudahmudahan terwujud 40 lembaga litbang unggulan dilingkungan Kemenristekdikti, termasuk salah satunya di UTM melalui PUI Garam. Ada beberapa kriteria Pusat Unggulan IPTEk harus memiliki respon yang cepat dalam menyikapi dinamika dan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Misalnya masalah kelangkaan Garam yang sedang kita hadapi sat ini, ada tidak apara akademisi yang memiliki kepedulian tehadap kelangkaan garam ini, jawabannya sngat sedikit para akademisi yang memiliki kepedulian terhadap garam, lebih banyak kalangan peninjau, polititis, pemerhati kebijakan yang justru lebih banyak memperhatikan persoalan garam. Sayarat selanjutnya PUI Garam harus memiliki keteguhan dan kesungguhan secara terus menerus dalam melakukan inovasi-inovasi terkait garam. Selanjutnya PUI Garam ini harus fokus pada persoalan-persoalan garam yang sedang dihadapi dengan cara
meningkatkan pengembangan SDM yang fokus pada garam. Hulu hilir permasalahan garam harus dikuasai oleh PUI Garam, Kemal menekankan dalam paparannya.
Kehadiran PUI Garam UTM ini sesungguhnya menjadi referensi Nasional dibidang penelitian Garam, mengingat hingga sekarang di Indonesia tidak ada lembaga penelitian yang fokus pada masalah garam, oleh karena itu harus ada roadmap yang jelas dari Pui Garam UTM dalam rangkat melakukan penguatan secara eksternal dan pengembangan inovasi garam yang pada akhirnya outputnya dapat dirasakan oleh masyarakat.
Roadmap ini meliputi jangka pendek, menengah dan panjang. Jangka pendek
dimaksudkan sebagai instrumin penguatan eksternal baik secara kelembagaan maupun dari sisi kompetensi atau SDM peneliti garam. Jangka menengah dimaksudkan sebagai sarana pengembangan terhadap hasil-hasil riset dan inovasi yang akan dan telah

dilakukan oleh PUI Garam. Sedangkan jangka panjang diharapkan kehadiran PUI Garam ini pada akhirnya hasilnya benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat.
Untuk itu, PUI Garam UTM ini harus memiliki kapasitas, kapabilitas, referensi dan dokumentasi yang jelas dan pasti. Tidak boleh PUI Garam ini bersifat personal, tetapi harus menjadi CEO sehingga secara kelembagaan kehadiran PUI Garam memiliki
eksistensi secara terus menerus dengan melandaskan pada nilai-nilai kreativitas, inovatif dan berkelanjutan. Untuk itu, PUI Garam UTM harus memperhatikan struktur dan manajerial/tata kelola organisasinya, kebijakan hukumnya, akreditasi institusi, visi misi, program dan kegiatan yang jelas, ungkap Kemal sembari mengakhiri paparannya dalam FGD PUI Garam.

Pengembangan PUI Garam UTM
Garam sesungguhnya merupakan salah satu komoditas yang ada disektor maritim yang tentu saja memiliki peran dan fungsi yangsangat strategis baik dalam hal untuk memenuhi kebutuhan konsumsi maupun untuk melayani aneka kebutuhan industri dalam berbagai skala industri. Madura sebagai salah satu daerah di Indonesia memiliki sebuah keunikan tersndiri yang berbeda dengan daerah lainnya, misalnya keunikan itu dapat dijumpai melalui kekayaan sumber daya alamnya, yaitu salah satunya garam yang secara khusus ada didaerah Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep.
Secara luasan, garam Madura terhampar di area tambak yang mencapai 35% luas tambak garam secara Nasional dengan memiliki jumlah produksi mencapai kurang lebih 700 ribu ton atau 55% terhadap produksi nasional.
Kekayaan garam Madura yang demikian itu justru berbanding terbalik dengan harapan pemerintah untuk menyelesaikan persoalan kelanggakaan garam yang terjadi. Hal ini dikarenakan keberadaan garam yang ada di Madura tidak bisa diimbangi dengan peningkatan inovasi dan diseminasi teknologi produksi yang berimplikasi terhadap produktivitas dan mutu garam Madura sangat lemah, padahal garam Madura memiliki kualitas yang baik diantara garam-garam yang ada didaerah lain di Indonesia.
Untuk itulah, kompleksitas garam Madura dan Nasional coba untuk segera dicarikan solusi alternatif penyelesaiannya secara komprehensif oleh UTM melalui Pusat Unggulan Inovasi Garam (PUI Garam) sebagai
salt innovation center untuk menumbuhkembangkan riset dan percepatan diseminasi inovasi teknologi garam sebagai bagian dari science and technology park garam, ucap Dr. Mahfud dalam paparannya.


Melalui FGD Penguatan Kelembagaan Pusat Unggulan Inovasi Daerah, kehadiran PUI Garam UTM dimaksudkan sebagai pengembangan
link and macth yang permanen antara Perguruan Tinggi, pelaku usaha, pemerintah, masyarakat dan non government organization. Secara konsep dan kelembagaan PUI Garam hadir untuk menggabungkan ide, inovasi dan know how dari dunia akademik dengan kemampuan finansial dan marketing dari dunia bisinis. Kolaborasi ini nantinya diharapkan mampu memberikan kontribusi dan memepercepat pengembangan produk garam dari hulu hilir serta untuk mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan inovasi ke dalam produk yang dapat dipasarkan dan dimanfatkan oleh publik dengan salah satu tujuannya untuk memperoleh economic return yang tinggi. Lebih lanjut Mahfud, menyampaikan bahwa PUI Garam UTM sebagai salt innovation center, menjadi bagian yang terintegrasi dalam pengelolaan program studi yang dapat dijabarkan atau dikukuhkan kedalam struktur kurikulum di masing-masing prodi sesuai dengan ciri dan karakter dari masing-masing prodi yang ada dilingkungan UTM. Tentu kedepannya kemudian menjada dasar atau referensi nasional dalam sistem kurikulum di lingkungan Perguruan Tinggi yang berbasis pada riset dan inovasi iptek, sehingga kehadiran Perguruan Tinggi tidak semata-mata hanya menjadi menara gading, melainkan menjadi “menara air” yang setiap saat dapat memberikan bukti nyata kepada masyarakat dalam setiap menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia.